Archive for October, 2006

Barang klangenan.

Sunday, October 15th, 2006

Masih ingat dengan Robert Langdon, simbolog dari Harvard University yang masih membujang hingga usia yang seharusnya sudah hampir wangun untuk ngemong cucu? Halah, kuwi lho, yang berpetualang dengan mbak-mbak yang masih kinyis-kinyis, Sophie Neveu untuk menemukan Holy Grail, dalam The Da Vinci Code karya Dan Brown?
Atau di lain waktu ketika berpetualang bersama mbak yang lain, peneliti di CERN, yang juga masih kinyis-kinyis, Vittoria Vetra, untuk menemukan anti-materi- yang konon walo cuma setetes bisa meratakan Vatikan- yang digunakan oleh ‘neo-illuminati’ untuk mengacaukan pertemuan Conclav di dalam buku Malaikat dan Iblis?
Ingsun ndak ingin mbahas ceritanya. Kalo belum pernah mbaca, ingsun juga tidak merekomendasikan pada sampeyan untuk membaca dua buku tersebut.
Yang sudah pernah mbaca, nggak usah kemlinthi sebelum bisa jawab pertanyaan saya : benda apa yg dikenakan Robert Langdon, yang sebenarnya sudah tidak wangun babar-blas dipakai oleh orang yang sudah menginjak puber ke-tiga?
******

Pernah nonton filem Richie Rich? Kisah tentang anak konglomerat, pengusaha kaya, milyuner, namun nggak punya teman bermain? Masih ingat adegan ketika harta orang tuanya yang disimpan di gunung Richmore (plesetan dari Rushmore) hendak dirampok tapi gagal?

******
Setiap orang pasti memiliki barang klangenan. Bukan karena harganya yang mahal, oleh-oleh dari luar negeri, buatan butik, limited edytion, atau dirancang oleh desainer kondang.
Suatu barang menjadi punya ‘nilai lebih’ justru karena benda tersebut mempunyai kenangan. Hadiah pertama dari pacar pertama, pemberian kakek, cincin kawin menjadi benda berharga bukan karena harga nominalnya, tapi karena mempunyai kenangan bersama orang-orang tercinta.

Sudah ingat tentang ‘barangnya’ Robert Langdon tadi?
Yup! Sebuah jam tangan Mickey Mouse hadiah dari orang tuanya saat ia ultah beberapa puluh tahun yang lalu. Benda itu menjadi berharga bagi dia karena merupakan salah satu tinggalan dari orang tuanya.

Perampok dalam filem Richie Rich tadi pun wurung mengambil harta orang tua Richie (tokoh utama dalam filem tesebut) karena harta yang disimpan di Gunung Richmore tersebut hanyalah barang-barang yang hanya laku dijual ke tukang loak
***
barang klangenan yang penuh kenangan memang kebanyakan berupa benda-benda yang nggak ’mutu’. Sering juga berupa benda2 yang un-useable aliyas tidak ada manfangatnya.
Surat dari pacar, saputangan, penjepit rambut, srandal jepit, cuilan artikel dari koran, foto, ….
Saking ra mutu-nya, beberapa lagu pun bercerita tentang benda-benda tersebut. Sebut saja lagu selendang sutera yang kerap terdengar kalo pas nonton filem perjuangan.
Orang jawa, sambil rengeng-rengeng kendhangan dengkul, ndengerin tembang ’Potret’-nya Pakdhe Manthou’s, Mawar biru, serta Ali-ali.
Iwan Fals pun bikin lagu Kembang Pete dan Engkau Tetap Sahabatku.
Semua tentang benda-benda ’keramat’ yang ra mutu tadi.
************
walopun benda spesial tadi memang ra mutu, biasanya si empunya akan tetap akan meng-istimewakannya. Disimpen di tempat rahasia, atau sebaliknya, sering dipamerin. Dipinjem orang juga nggak boleh.
Dari segi kemanfangatannya, walopun benda tersebut bisa dipake, karena takut rusak, jadinya jarang dipake.

Saya jadi inget, ketika Sri Paku Alam VIII meninggal pada tahun 1999. Ketika ingsun nonton rombongan mobil jenazahnya menuju pasareyan Girigondo, seseorang yang juga sama-sama nonton kebetulan dapet uang ’sawur’ koin Rp. 500 ketika rombongan jenazah lewat. Dengan bangga bilang : ’lumayan, disimpen, nggo jimat’.
Halah, wis klangenan ra mutu, membuka pintu kesyirikan lagi! Bikin celaka di akhirat aja….
*******
kalo punya benda ’klangenan’ itu mbok ya yang bermutu!
Ujudnya tidak ngisin-isini, manfangati, ato minimal nggak bikin si empunya itu repot ato kelihatan ’nyleneh’.
Contoh klangenan yang wajib jadi kebanggaan ketika memakainya karena merupakan tinggalan dari Khalilullah, nggak bikin repot, full manfangat, bikin beja-slamet ndonya-ngakérat :

“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : ‘Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan terpisah sampai keduanya mendatangiki di Telaga (syurga)”.

Hadits Shahih Riwayat Al-Hakim (1/93) dan Al-Baihaqy (X/114).

Nada Sambung

Thursday, October 12th, 2006

Dua malam sebelum ingsun membaca kabar tentang ‘fatwa’ larangan menjadikan murattal al-Qur’an dan adzan sebagai ringtone dan nada sambung ponsel, dumadakan terbersit ide di kepala (bukan dengkul) ingsun, tentang suatu nada sambung yang lain daripada yang lain. Walopun seandainya ide ini berhasil ingsun jual ke tukang tadah ide, kemudian dijual lagi ke pabrik nada sambung, ingsun pun nggak nggak berminat make. Lha wong Henpon Genggam ingsun cuman dikasih sajen pulsa elektrik 20 ribu repis tiap dua minggu (ngisi sendiri donk), lha kok mau pecicilan pake nada sambung. Lagian juga jarang ada yang nelpon ingsun, kecuali para fans yang minta ditransfer sejumlah pulsa ke HP-nya dan Budhe-nya anak-anak, yang cuman sering miskol sebagai tanda kalo masih inget punya adik semata wayang di tanah rantau.

Idenya seperti apa tho?
Nada sambung yang isinya murattal, adzan, nasyid, lagu, ceramah, dan sebagainya, itu semua biasa aja. Klasik.
Mbok ya nada sambung itu bunyinya seperti ini :

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktiv atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lagi… the mobile telephon you wish to contact can’t reach at the moment. Please try later…” (kalo pake im3)

“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi……… the number you’re calling cannot be reach. Please try again later…” (kalo pake XL Bebas)

“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembli nomor tujuan Anda.. the number you’re calling is not define. Please check again the number you are callling….” (kalo simpati yang sudah angus..)

dan sebagainya….

intinya, buat seakan-akan nomor sampeyan itu sedang tidak aktiv ketika dihubungi, padahal sebenarnya tidak ada masalah…….

*****
sekitar dua tahun yang lalu, masih jaman prihatin, belum ada model-model nada tunggu seperti sekarang. Seandainya sudah ada, boro-boro pake nada tunggu. Lha wong pake jurus dua-detik-an (ini salah satu keunggulan im3 saat itu : nelpon <2 detik pulsa tidak terpotong) pun masih Pe-De aliyas sing Penting nDableg, demi mengirit pulsa.
Salah seorang teman yang berniat nggarapi temannya dengan memanfaatkan jurus dua detik-an kena getahnya. Sering miskol ke nomer temannya, dengan pertimbangan kalopun diangkat, ga bakal kepotong, karena dalam waktu < 2 detik sudah ditutup lagi.

Rupanya temennya temen saya yg jadi objek penggarapan tadi punya jurus penangkalnya.
Karena nada sambungnya masih tuuuuuuuut-tuuuuuuuut-tuuuuuuuut, begitu telpon diangkat, si fulan tadi meneruskan ‘nada sambung’nya : tuuuuut-tuuuuut-tuuuuut…..
********
Kembali ke fatwa tadi : ringtone murattal nggak boleh. Ah, biar saja.
Pertama, saya kayaknya juga nggak bakalan pake ringtone murattal atau adzan. Ra ilok, begitu kata orang jawa….
Kedua, emang HP saya nggak memungkinkan. HP masih thulit-thulit. Belum poliklinik. Apalagi yang realtone. Kamera 2MPic, MMS, 3G enable, layar 265k, video calling, Symbian OS, java game, lupakan itu…… format mp3, wav, 3gp jangan harap mau mampir…..

Un-intelec habits : an introduction

Wednesday, October 11th, 2006

Kalo maksudnya adalah perilaku yang nggak ng-intelek, bahasa enggris-nya betul seperti itu kan? Berbahasa enggris bagi saya-mungkin juga bagi panjenengan juga-adalah sesuatu yang berat, karena mempertaruhkan harga diri : tidak ingin menunjukkan kebodohan. Hehe…

Kembali ke : judul.
Perilaku manusia, satu dengan yang lain berbeda-beda. Tergantung pada lingkungan, pendidikan, pola pikir dan orientasinya. Perilaku juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengukur ’tingkat intelektualitas’ seseorang, karena seseorang dengan pendidikan (baik formal, informal ataupun yang otodidak) yang baik, biasanya akan berpengaruh positif terhadap perilakunya.

Grusa-grusu, sembrono, tidak teliti, emosian, urakan, kurang memperhatikan adab, kaidah dan aturan adalah contoh-contoh umum dari sebuah perilaku yang un-intelec, atau kalo memakai bahasa ingsun : ora mriyayi.

Apakah un-intelec habits ini mempunyai korelasi yang erat dengan status sosial? Belum tentu juga. Banyak priyayi yang tindak-tanduknya ora mriyayi. Buang sampah sembarangan, makan dengan tangan kiri, menerobos lampu merah, ngemplang utang, main serobot istri orang……

Sebaliknya, banyak juga ’orang-orang lapis bawah’ yang perilakunya sangat mriyayi, dosisnya melebihi mereka yang bertahta. Contoh-contoh seperti ini lebih banyak kita temui di daerah yang bukan perkotaan, dimana rasa kesosialannya masih tinggi. Sebuah istilah yang mungkin cocok untuk hal ini : kearifan lokal.

Bagaimana dengan mereka yang ada di kota? Prosentase terbesar lapis bawah dari populasi sebuah kota biasanya adalah kaum urban. Datang dari desa mengadu nasib, tapi kalah. Jadilah mereka lontang-lantung di kota. Ibarat pisau bermata dua : bertahan di kota sekarat, pulang ke desa malu plus setengah sekarat. Dalam hal perilaku, histeria kebebasan kadang masih melekat. Yang dulunya ini-itu terikat aturan didalam keluarga dan masyarakat, kemudian pindah ke dunia yang memungkinkan untuk berbuat apapun tanpa ada sanksi, kecuali telah menjurus ke arah kriminal.

Dalam tulisan-tulisan yang akan datang-insyaAllah, kalo ada ide dan nggak males-akan ter-upload tulisan tulisan tentang un-intelec habits, yang kadang mungkin lebih menjurus ke arah ’stupid’.

Co-past

Tuesday, October 10th, 2006

Bagaimana nggak bikin turut berduka cita, jika ada blog kok ternyata isinya cuman hasil copy-paste dari tetangga.
Mangkanya, dalam mengisi blog ini, ingsun berusaha mengeluarken isi otak ingsun (maksudnya?) dalam bentuk tulisan yang terpublikasikan melalui blog.
Siapa tau, bagi panjenengan semua, ada manfaatya. Sukur-sukur kalo ada yang kemudian mendapatkan pencerahan……..