Archive for November, 2006

Cukur

Thursday, November 23rd, 2006

Kata orang, rambut adalah mahkota, sehingga haruslah mendapat perhatian yang ekstra…. Tiap seminggu sekali dicreambath, sebulan sekali direbonding, dan segala macem tetek bengek yang saya sendiri ga tau cara dan tujuannnya. Tapi bagi saya, ah biasa saja. Yang penting saban hari dishampoo, terus disisir dengan rapi jali, jauh dari sindap, tumo (Pediculus humanis capitis), cathak, pinjal serta segala macam varian parasit lainnya. Modelnya pun biasa saja. Tidak aneh-aneh macam model rambutnya To Ming Se, Don King, Bob Marley, Einstein atau Koizumi. Cukup meneruskan model pacul-gowang (salah satu varian dari cukuran model kuncung), rambut cukup dibelah pinggir saja, sehingga 4x sisir (depan, kanan, kiri, belakang), sudah bisa dianggap rapi. Eh, di gambar ga kelihatan model rambutnya ya? Maklum, ketutupan blank-on.

Kata orang, rambut adalah mahkota, sehingga haruslah mendapat perhatian yang ekstra…. Tiap seminggu sekali dicreambath, sebulan sekali direbonding, dan segala macem tetek bengek yang saya sendiri ga tau cara dan tujuannnya. Tapi bagi saya, ah biasa saja. Yang penting saban hari dishampoo, terus disisir dengan rapi jali, jauh dari sindap, tumo (Pediculus humanis capitis), cathak, pinjal serta segala macam varian parasit lainnya. Modelnya pun biasa saja. Tidak aneh-aneh macam model rambutnya To Ming Se, Don King, Bob Marley, Einstein atau Koizumi. Cukup meneruskan model pacul-gowang (salah satu varian dari cukuran model kuncung), rambut cukup dibelah pinggir saja, sehingga 4x sisir (depan, kanan, kiri, belakang), sudah bisa dianggap rapi. Eh, di gambar ga kelihatan model rambutnya ya? Maklum, ketutupan blank-on.
Masalah motong rambutnya juga ga perlu repot pake sajen serta kembang menyan. Ga perlu ke salon yang kapsternya gak jelas kudu dipanggil mas ato mbak. Cukup di tukang cukur profesional pinggir jalan saja……

Beberapa waktu yang lalu, beberapa kali potong rambut di tukang cukur yang ada di dekat kosan. Delapan ribu repis, hasilnya nggak memuaskan…….
Dulu, waktu masih sekolah di nJurangmangu, cuman lima ribu repis (belakangan naik jadi enam ribu) hasilnya sudah lumayan…. maklum, di Jakarta coret, wajar jika agak murah sedikit….. tapi mengingat jaman tersebut masih jaman prihatin, tetep aja mahal… lha wong equivalen dengan 3x makan, aliyas bisa untuk satu setengah hari! Walhasil, selama 3 tahun disana, saya cuman dua atau tiga kali nongkrong disitu, pas mau ospek di tingkat I dan mau wisuda!

Mencari alternatip, potong rambut dilakukan ketika pulang kampung, sehingga ketika pulang kampung hampir pasti dalam keadaan setengah gondrong.
Mencoba tukang cukur pithingan di sebuah pasar tradisional…. bapak tukang cukurnya sudah tua. Mungkin usianya sudah 70-an lebih. Saya pernah bertanya : ”sudah lama pak, mangkal disini?” ”yaaa, sudah sejak jaman clash kedua (1949)” gdubrak! Tapi dari sisi tarif memang murah : tiga ribu repis.

Sesuai perkembangan jaman, pasar desa yang ada di dekat rumah makin ramai. Tiap hari pasaran (Pon dan Legi) ada tukang cukur mangkal di situ. Pithingan juga. Dengan dua ribu repis, penampilan bisa tambah rapi. Sambil beraksi dengan gunting atau gunting sorok, sambil ngobrol….
sampeyan itu cucunya mbah Fulanah (menyebut nama simbah saya) ya?”
iya, betul
saya dulu sering buruh di tempat simbah sampeyan, jamannya simbah sampeyan masih sering sewa sawah tahunan….
tahun 70-80an ya..?
bulik sampeyan itu sekarang di mana? Dulu saya temennya sekelas pas SD. Dulu dia paling jago…. belajarnya kan masih numpang di rumah pak fulan deket rumah simbah sampeyan itu… blablabla…”

Semurah apapun taripnya, kalo masih ada yang majaanan aliyas gratis, tentu milihnya yang gratis.
Hingga lulus kuliyah (lebih tepatnya : sekolah) sekitar setahun yang lalu, paling sering kalo mau cukur ya tinggal bilang ke tetangga : ”Kang, lagi nganggur nggak? Tolong dicukur. Seperti biasa saja….” Tanpa birokrasi yang rumit, si mas kemudian mengeluarkan kursi gunting serta sisir. Kalo pas ada, ya bersama secuil cermin rias. Biar badan nggak gatel, kaus pun dilepas. Kres kres kres. Gunting pun beraksi di bawah rimbun pohon di kebon….. tak jarang, kemudian datang tetangga yang lain, minta dicukur pula… Setelah selesai : “Matur nuwun yo…” selesai. Tanpa salam tempel….
Kini si mas sudah kembali ke tanah kelahirannya di dusun seberang sawah bersama keluarganya…… ah, lagian masak sudah bergaji 7 digit masih mau nyari yang gratisan…

Edyguard
suka yang gratisan

Win The War!

Wednesday, November 1st, 2006

Walopun diwarnai dengan perbedaan dalam menentukan harinya, lebaran akhirnya tiba. Ritual-ritual tahunan bernuansa lokal dalam rangka lebaran pun kembali dilakukan : bikin ketupat, bertandang ke sanak famili dan tetangga, saling bermaaf-maafan, bagi-bagi angpao, kirim ucapan selamat (baik lewat kartu ucapan, email, atao yg paling simpel : SMS), baju baru, halal-bil-halal, syawalan trah, dan tak lupa, bagi manusia-manusia urban seperti ingsun ini : MUDIK!
Ya! Ramadhan memang telah berlalu.
Hari kemenangan telah datang!
Idul Fitri memang disalahkaprahkan dari makna sebenarnya, dan diartikan sebagai ”kembali fitri”, setelah berpuasa selama Ramadhan, dosa-dosa dihapuskan. Keadaan mereka kembali seperti seperti bayi yang baru lahir procot : nggak punya dosa.
*****
Selama bulan Ramadhan, kita memang beperang melawan hawa nafsu. Nafsu makan dikekang dari shubuh hingga maghrib. Mata pun ga boleh jelalatan, nggak boleh lihat yang ”seger-seger”. Tangan juga nggak boleh gerayangan, ngeplak, nonjok, nempeleng, nggrathil, jahil, nyolong, dan sebagainya. Kaki juga bolehnya cuman buat mengantar raga menuju tempat yang baik, mengajak ke kajian, shalat jamaah, dan sebagainya. Telinga juga dijauhkan dari suara-suara mesum, pisuhan, dan diganti dengan tilawah, murattal, kajian, nasihat, dan pitutur. Lisan juga dijaga dari ngrasani, misuh, ngapusi, adu-adu, marah, ngomel, dan diganti dengan ucapan-ucapan yang baik atau diam. Yang suami-istri pun hanya boleh hot-hotan antara waktu maghrib hingga sebelum fajar saja. Yang belum/bukan suami istri emang mutlak nggak bolehnya………………
Namanya juga perang. Ada menang atau kalah, kecuali berakhir seri, seperti kisah Datuk Maringgih ketika duel dengan Samsul Bahri.
*****
Benarkah Idul Fitri sebagai perayaan kemenangan bagi mereka yang telah menjalankan shaum di bulan Ramadhan? Lalu, siapakah yang kalah? Kok yang disebut cuma yang menang saja? Apa nggak ada yang kalah?
Perang Diponegoro menurut buku sejarah terjadi tahun 1825-1830. Apa selama itu tiap hari Pangeran Diponegoro cs beradu senjata melawan Belanda? (bukan kumpeni, karena VOCtelah bubar di tahun 1798). Tentu tidak. Adakalanya berlangsung pertempuran, perlawanan dan perundingan, namun juga diselingi dengan banyak kegiatan-kegiatan dan aktivitas keseharian seperti layaknya orang hidup pada umumnya.
Ramadhan hanyalah sepenggal bagian dari peperangan dan perjuangan anak manusia dalam merealisasikan ketaatan sebagai hamba. Pertempuran melawan nafsu.
”Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan untuk berbuat jahat kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Rabbku” (Yusuf: 53)
Ketika terjadi perselisihan dalam menentukan keputusan, pilih taat ato maksiyat, pilih yang manfaat atau yang sia-sia dan bahaya, kemudian ketika sudah melaksanakan mau terus atau dibatalkan, kemudian ketika sudah selesai mau diomong-omongkan pada orang lain, dan seterusnya….. itulah yang namanya pertempuran melawan hawa nafsu.
Pilih bertauhid, atau syirik?
Mau shaum ato nggak?
Adzan shubuh telah terdengar, bangun kemudian ikut jamah di masjid atao nerusin tidur aja?
Pilih ngaji ato nonton tipi?
Punya duit, pilih untuk infak atau untuk nge-net?
Mau terima uang abu-abu nggak?
Ada pemandangan seger, mo dinikmati nggak?
Ada yang menyulut api gosip, mau ikut mengompori atau diam dan menghindar?
Mau langsung nikah atau penjajagan ’luar-dalam’ dulu?
Mau percaya primbon, ramalan menurut pasaran, kartu tarot, zodiak dan shio, atau menyerahkan apa yang belum terjadi terserah kehendak Allah setelah kita berusaha?
Dan seterusnya…………….
Selama shaum, dalam serangkaian pertempuran, kita cenderung mengalahkan nafsu. Stop maksiat selama shaum.
Namun, pertempuran melawan nafsu tak hanya di bulan Ramadhan. Apa yang haram di bulan Ramadhan juga haram di bulan lainnya, kecuali yang memang khusus dilarang bagi orang yang tengah shaum, seperti makan, minum, serta hot-hot-an.
Sungguh tragis, jika kita hanya merasa menang (walopun mungkin sebenarnya kalah) dalam pertempuran selama Ramadhan, tapi kemudian tanpa sadar selalu kalah dalam pertempuran selama 11 bulan yang lain.
Dari baligh sampai koit, itulah rentang peperangan manusia melawan nafsu. Sangat menyedihkan jika kita bangga dengan kemenangan di satu pertempuran, namun tidak sadar bahwa kita telah selalu jadi pecundang dalam setiap pertempuran yang lain, dan peperangan kita didominasi kekalahan……………………….