Cukur

Kata orang, rambut adalah mahkota, sehingga haruslah mendapat perhatian yang ekstra…. Tiap seminggu sekali dicreambath, sebulan sekali direbonding, dan segala macem tetek bengek yang saya sendiri ga tau cara dan tujuannnya. Tapi bagi saya, ah biasa saja. Yang penting saban hari dishampoo, terus disisir dengan rapi jali, jauh dari sindap, tumo (Pediculus humanis capitis), cathak, pinjal serta segala macam varian parasit lainnya. Modelnya pun biasa saja. Tidak aneh-aneh macam model rambutnya To Ming Se, Don King, Bob Marley, Einstein atau Koizumi. Cukup meneruskan model pacul-gowang (salah satu varian dari cukuran model kuncung), rambut cukup dibelah pinggir saja, sehingga 4x sisir (depan, kanan, kiri, belakang), sudah bisa dianggap rapi. Eh, di gambar ga kelihatan model rambutnya ya? Maklum, ketutupan blank-on.

Kata orang, rambut adalah mahkota, sehingga haruslah mendapat perhatian yang ekstra…. Tiap seminggu sekali dicreambath, sebulan sekali direbonding, dan segala macem tetek bengek yang saya sendiri ga tau cara dan tujuannnya. Tapi bagi saya, ah biasa saja. Yang penting saban hari dishampoo, terus disisir dengan rapi jali, jauh dari sindap, tumo (Pediculus humanis capitis), cathak, pinjal serta segala macam varian parasit lainnya. Modelnya pun biasa saja. Tidak aneh-aneh macam model rambutnya To Ming Se, Don King, Bob Marley, Einstein atau Koizumi. Cukup meneruskan model pacul-gowang (salah satu varian dari cukuran model kuncung), rambut cukup dibelah pinggir saja, sehingga 4x sisir (depan, kanan, kiri, belakang), sudah bisa dianggap rapi. Eh, di gambar ga kelihatan model rambutnya ya? Maklum, ketutupan blank-on.
Masalah motong rambutnya juga ga perlu repot pake sajen serta kembang menyan. Ga perlu ke salon yang kapsternya gak jelas kudu dipanggil mas ato mbak. Cukup di tukang cukur profesional pinggir jalan saja……

Beberapa waktu yang lalu, beberapa kali potong rambut di tukang cukur yang ada di dekat kosan. Delapan ribu repis, hasilnya nggak memuaskan…….
Dulu, waktu masih sekolah di nJurangmangu, cuman lima ribu repis (belakangan naik jadi enam ribu) hasilnya sudah lumayan…. maklum, di Jakarta coret, wajar jika agak murah sedikit….. tapi mengingat jaman tersebut masih jaman prihatin, tetep aja mahal… lha wong equivalen dengan 3x makan, aliyas bisa untuk satu setengah hari! Walhasil, selama 3 tahun disana, saya cuman dua atau tiga kali nongkrong disitu, pas mau ospek di tingkat I dan mau wisuda!

Mencari alternatip, potong rambut dilakukan ketika pulang kampung, sehingga ketika pulang kampung hampir pasti dalam keadaan setengah gondrong.
Mencoba tukang cukur pithingan di sebuah pasar tradisional…. bapak tukang cukurnya sudah tua. Mungkin usianya sudah 70-an lebih. Saya pernah bertanya : ”sudah lama pak, mangkal disini?” ”yaaa, sudah sejak jaman clash kedua (1949)” gdubrak! Tapi dari sisi tarif memang murah : tiga ribu repis.

Sesuai perkembangan jaman, pasar desa yang ada di dekat rumah makin ramai. Tiap hari pasaran (Pon dan Legi) ada tukang cukur mangkal di situ. Pithingan juga. Dengan dua ribu repis, penampilan bisa tambah rapi. Sambil beraksi dengan gunting atau gunting sorok, sambil ngobrol….
sampeyan itu cucunya mbah Fulanah (menyebut nama simbah saya) ya?”
iya, betul
saya dulu sering buruh di tempat simbah sampeyan, jamannya simbah sampeyan masih sering sewa sawah tahunan….
tahun 70-80an ya..?
bulik sampeyan itu sekarang di mana? Dulu saya temennya sekelas pas SD. Dulu dia paling jago…. belajarnya kan masih numpang di rumah pak fulan deket rumah simbah sampeyan itu… blablabla…”

Semurah apapun taripnya, kalo masih ada yang majaanan aliyas gratis, tentu milihnya yang gratis.
Hingga lulus kuliyah (lebih tepatnya : sekolah) sekitar setahun yang lalu, paling sering kalo mau cukur ya tinggal bilang ke tetangga : ”Kang, lagi nganggur nggak? Tolong dicukur. Seperti biasa saja….” Tanpa birokrasi yang rumit, si mas kemudian mengeluarkan kursi gunting serta sisir. Kalo pas ada, ya bersama secuil cermin rias. Biar badan nggak gatel, kaus pun dilepas. Kres kres kres. Gunting pun beraksi di bawah rimbun pohon di kebon….. tak jarang, kemudian datang tetangga yang lain, minta dicukur pula… Setelah selesai : “Matur nuwun yo…” selesai. Tanpa salam tempel….
Kini si mas sudah kembali ke tanah kelahirannya di dusun seberang sawah bersama keluarganya…… ah, lagian masak sudah bergaji 7 digit masih mau nyari yang gratisan…

Edyguard
suka yang gratisan

Leave a Reply