Win The War!

Walopun diwarnai dengan perbedaan dalam menentukan harinya, lebaran akhirnya tiba. Ritual-ritual tahunan bernuansa lokal dalam rangka lebaran pun kembali dilakukan : bikin ketupat, bertandang ke sanak famili dan tetangga, saling bermaaf-maafan, bagi-bagi angpao, kirim ucapan selamat (baik lewat kartu ucapan, email, atao yg paling simpel : SMS), baju baru, halal-bil-halal, syawalan trah, dan tak lupa, bagi manusia-manusia urban seperti ingsun ini : MUDIK!
Ya! Ramadhan memang telah berlalu.
Hari kemenangan telah datang!
Idul Fitri memang disalahkaprahkan dari makna sebenarnya, dan diartikan sebagai ”kembali fitri”, setelah berpuasa selama Ramadhan, dosa-dosa dihapuskan. Keadaan mereka kembali seperti seperti bayi yang baru lahir procot : nggak punya dosa.
*****
Selama bulan Ramadhan, kita memang beperang melawan hawa nafsu. Nafsu makan dikekang dari shubuh hingga maghrib. Mata pun ga boleh jelalatan, nggak boleh lihat yang ”seger-seger”. Tangan juga nggak boleh gerayangan, ngeplak, nonjok, nempeleng, nggrathil, jahil, nyolong, dan sebagainya. Kaki juga bolehnya cuman buat mengantar raga menuju tempat yang baik, mengajak ke kajian, shalat jamaah, dan sebagainya. Telinga juga dijauhkan dari suara-suara mesum, pisuhan, dan diganti dengan tilawah, murattal, kajian, nasihat, dan pitutur. Lisan juga dijaga dari ngrasani, misuh, ngapusi, adu-adu, marah, ngomel, dan diganti dengan ucapan-ucapan yang baik atau diam. Yang suami-istri pun hanya boleh hot-hotan antara waktu maghrib hingga sebelum fajar saja. Yang belum/bukan suami istri emang mutlak nggak bolehnya………………
Namanya juga perang. Ada menang atau kalah, kecuali berakhir seri, seperti kisah Datuk Maringgih ketika duel dengan Samsul Bahri.
*****
Benarkah Idul Fitri sebagai perayaan kemenangan bagi mereka yang telah menjalankan shaum di bulan Ramadhan? Lalu, siapakah yang kalah? Kok yang disebut cuma yang menang saja? Apa nggak ada yang kalah?
Perang Diponegoro menurut buku sejarah terjadi tahun 1825-1830. Apa selama itu tiap hari Pangeran Diponegoro cs beradu senjata melawan Belanda? (bukan kumpeni, karena VOCtelah bubar di tahun 1798). Tentu tidak. Adakalanya berlangsung pertempuran, perlawanan dan perundingan, namun juga diselingi dengan banyak kegiatan-kegiatan dan aktivitas keseharian seperti layaknya orang hidup pada umumnya.
Ramadhan hanyalah sepenggal bagian dari peperangan dan perjuangan anak manusia dalam merealisasikan ketaatan sebagai hamba. Pertempuran melawan nafsu.
”Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan untuk berbuat jahat kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Rabbku” (Yusuf: 53)
Ketika terjadi perselisihan dalam menentukan keputusan, pilih taat ato maksiyat, pilih yang manfaat atau yang sia-sia dan bahaya, kemudian ketika sudah melaksanakan mau terus atau dibatalkan, kemudian ketika sudah selesai mau diomong-omongkan pada orang lain, dan seterusnya….. itulah yang namanya pertempuran melawan hawa nafsu.
Pilih bertauhid, atau syirik?
Mau shaum ato nggak?
Adzan shubuh telah terdengar, bangun kemudian ikut jamah di masjid atao nerusin tidur aja?
Pilih ngaji ato nonton tipi?
Punya duit, pilih untuk infak atau untuk nge-net?
Mau terima uang abu-abu nggak?
Ada pemandangan seger, mo dinikmati nggak?
Ada yang menyulut api gosip, mau ikut mengompori atau diam dan menghindar?
Mau langsung nikah atau penjajagan ’luar-dalam’ dulu?
Mau percaya primbon, ramalan menurut pasaran, kartu tarot, zodiak dan shio, atau menyerahkan apa yang belum terjadi terserah kehendak Allah setelah kita berusaha?
Dan seterusnya…………….
Selama shaum, dalam serangkaian pertempuran, kita cenderung mengalahkan nafsu. Stop maksiat selama shaum.
Namun, pertempuran melawan nafsu tak hanya di bulan Ramadhan. Apa yang haram di bulan Ramadhan juga haram di bulan lainnya, kecuali yang memang khusus dilarang bagi orang yang tengah shaum, seperti makan, minum, serta hot-hot-an.
Sungguh tragis, jika kita hanya merasa menang (walopun mungkin sebenarnya kalah) dalam pertempuran selama Ramadhan, tapi kemudian tanpa sadar selalu kalah dalam pertempuran selama 11 bulan yang lain.
Dari baligh sampai koit, itulah rentang peperangan manusia melawan nafsu. Sangat menyedihkan jika kita bangga dengan kemenangan di satu pertempuran, namun tidak sadar bahwa kita telah selalu jadi pecundang dalam setiap pertempuran yang lain, dan peperangan kita didominasi kekalahan……………………….

One Response to “Win The War!”

  1. rOrO Says:

    ass..
    subhanallah..kata yang ak ucapkan saat ak selesai membaca blog ini..alhamdulillah ak sdh dberi kesempatan untuk dapat membaca blog ni..syukron y sudah add ri2n jadi temen..syukron ri2n sudah diingetin..meskipun cuma lewat internet aj..tapi rasanya ri2n tersadar dari kekhilafan ri2n slama ini..
    g tau musti ngomong apa2 lagi yang pasti ri2n ngucapin makasih banget dah diingetin ma mas..
    af1 ni klu blh ri2n ingin berbagi cerita dan kebingungan ri2n ma mas(krn ak anggap mas tu lbh tau)gini sbenernya ap seh hukumnya ke sarean pas idul fitri tu..itu mang ada haditsnya ato cuma tradisi aj..tlng y ri2n dksh tau..cos lbaran kmrn pas mo ke sarean (ri2n g ikut c soalnya ri2n kan cew)om ri2n yang aktifis dakwah bilang”kenapa harus hr ini?ini kan idul fitri.waktunya untuk saling memaafkan bukannya malah kesarean..klu k sarean kan bisa kmrn2..knp hrs hari ini?”nah gitu mas skrg ri2n nanya ad g seh hukum yang mengatur ttg hal itu..mohon jawabannya ya..af1 ni ngrepotin..
    jazakallah ya mas..^_^..
    wass

    ..palembang, suatu hari ‘06 saat ku ad d persimpangan jalan..

Leave a Reply