Archive for December, 2006

Ojo Nggumunan, Ojo Kagetan.

Wednesday, December 20th, 2006

Begitu salah satu petuah yang dulu saya dengar. Jangan mudah heran melihat sesuatu yang baru, jangan mudah terkejut dengan perubahan yang terjadi. Kondisi dan kejadian baru memang selalu kita temui, dari yang relatif wajar-wajar saja, hingga yang sangat ekstrim mengubah arah dan ritual hidup.

Sekitar tahun 2001-2002, benda bernama henpon genggam aliyas HP hanya dimiliki oleh segelintir manusia yang termasuk the have. Yang bikin saya nggumun ketika itu bukan nirkabel (wireless)nya. Kalo cuman ngomong dengan piranti nirkabel, Ha-Té di jaman itu juga sudah menjadi lazim digunakan oleh aparat keamanan. Yang bikin nggumun saya saat itu adalah bagaimana simcard yang segede kartu ATM dimasukin ke dalam henpon yang lebarnya relatif sama, bahkan lebih kecil. Setelah jadi manusia urban dan teman saya punya henpon, saya baru tahu, kalo yang dimasukin cuman secuil dari simcard yang gede itu.
Itu hanya satu sisi ke-nggumunan saya tentang makhluk bernama henpon itu. Ke-nggumunan yang lain juga tentang bagaimana cara mbayarnya? Kalo beli voucer pulsa yang juga segede kartu ATM itu, bagaimana menyuapkan ke henpon-nya? Dan sebagainya.
*****
Ternyata penyebab utama berjangkitnya penyakit nggumun di otak adalah karena ketiadaan ilmu. Semakin banyak informasi yang telah direkam oleh otak tentang suatu hal, maka kemungkinan timbulnya rasa nggumun akan semakin kecil, dan akan hilang jika sudah terbiasa dengan hal tersebut, bahkan bisa saja kemudian kita berbalik menjadi nggumun jika ada orang yang sanggup hidup tanpa itu….
*****
Sejenis dengan yang namanya nggumun, kaget melanda seseorang jika ada kejadian yang baru pada hal yang lama.
Seorang suami ber-ta’addud (memiliki dua istri sekaligus), itu banyak terjadi. Tapi kalo fa’il (pelaku)nya seorang da’i yang jadi idola mbak-mbak dan para ibu, tentu yang kaget dan patah hati nggak cuman istrinya saja.
Video unyil yang direkam secara amatiran dan beredar di masyarakat luas sudah banyak variannya. Dari Bandung Lautan Asmara, casting iklan sabun hingga ’kuda-kudaan’ anak SMU dari tanah seberang dan ’karaoke’ oknum abdi negara. Semua dilakukan oleh segelintir oknum rakyat Endonesah ini. Tapi ketika oknum-oknum tersebut mempunyai perwakilan anggota dewan di parlemen, siapa yang tidak kaget?
*****
Milih nggumun dan kaget, atao tenang dan biasa saja, itu pilihan pribadi. Yang penting adalah kemudian tetap berpikir logis, dan bertindak wajar sesuai hukum dan kaidah.
Kalo nggumun : cari tahu ngelmunya.
Kalo kaget : bersabar.

*****
Edyguard
Jangan nggumun dan/atau kaget dengan oknum seperti ini…………..

Wedhul Gèmbès

Monday, December 4th, 2006

Hari ahad yang cerah pertengahan bulan Syawal 1427 H, sebulan yang lalu, saya menghadiri walimatul ursy (resepsi pernikahan) salah seorang teman SMA. Banyak teman SMA yang datang. Sekalian reuni. Ketika sedang ngobrol dengan seorang teman, datang seorang teman yang lain dan berkata pada teman saya :
“waah, Dul, saiki kok kowe melu-melu dadi Wedhul Gèmbès……!”
(waah, Dul, sekarang kok kamu ikut-ikutan jadi Wedhul Gèmbès…!)
Teman yang diajak ngomong tadi cuman tersenyum dan tidak menanggapinya……
*****
Wedhul Gèmbès. Kata yang sudah jarang saya mendengarnya. Kata plesetan dari Wedhus Gèmbèl. Kata lain yang semisal contohnya kantos por dan pecas ndahe. Bahasa model demikian ini marak di daerah saya kira-kira sepuluh tahun yang lalu.
*****
Setelah ngobrol empat penjuru mata angin (ngalor-ngidul-ngulon-ngetan), tiba-tiba teman yang divonis Wedhul Gèmbès tadi ngomong kepada saya :
“opo yo arp tak wangsuli kaya wangsulane Pak Rahmat…..?”
(apa ya mau saya jawab seperti jawabannya Pak Rahmat…….?)

ooooo, barulah saya sadar arah pembicaraan teman yang mengatakan Wedhul Gèmbès tadi. Otak saya ternyata telat dalam menganalisa kata-kata dan menemukan munasabah (korelasi/keterkaitan) antara teman saya yang diajak bicara dengan arah pembicaraan.

Wedhus Gèmbèl. Bukan seperti kambing biasa yang berbulu hitam/coklat/putih lurus dan makanannya ramban (tanaman pagar/perdu), tidak cuma rumput saja.
Wedhus Gèmbèl ini hampir semua berbulu putih, keriting kriwel-kriwel, dan di-ngon (digembalakan) di padang rumput (lapangan), di tepi jalan (yang bukan trotoar) atau embong sawah. Wedhus Gèmbèl kalo dalam bahasa Indonesia mungkin lebih tepatnya “domba”, bukan “kambing”.

Lalu apa hubungannya dengan teman saya tadi? Rupanya teman tadi memelihara jenggotnya. Dan kambing (jantan dan sudah poèl/tua) biasanya juga berjenggot. Terlepas dari fakta apakah kalo domba (Wedhus Gèmbèl) juga berjenggot atau tidak, namun kira-kira perkataan tersebut dapat ditafsirkan menjadi : ”kamu kok jenggotan sekarang, kayak kambing”.

Lalu mengapa teman saya tadi tidak menjawab dengan jawaban Pak Rahmat?
Saya belum kenal dengan Pak Rahmat. Menurut informasi yang saya dapat, Beliau yang namanya Pak Rahmat adalah mantan ’panglima’ tingkat kabupaten dari sebuah laskar. Laskarnya sendiri secara nasional sekarang sudah dibekukan karena adanya fatwa dari beberapa ulama Saudi dan Yaman.
Bagaimana jawaban beliau jika dikatakan ”kayak kambing” karena beliau berjenggot? Jawaban beliau memang ”sadis”, namun langsung ”membantai” lawan bicara.

”as* kae raine neng ngarep yo ra duwé jenggot”
(anj*ng itu wajahnya didepan juga nggak punya jenggot)
*****

Edyguard
Jenggot=nyunnah!