Wedhul Gèmbès
Hari ahad yang cerah pertengahan bulan Syawal 1427 H, sebulan yang lalu, saya menghadiri walimatul ursy (resepsi pernikahan) salah seorang teman SMA. Banyak teman SMA yang datang. Sekalian reuni. Ketika sedang ngobrol dengan seorang teman, datang seorang teman yang lain dan berkata pada teman saya :
“waah, Dul, saiki kok kowe melu-melu dadi Wedhul Gèmbès……!”
(waah, Dul, sekarang kok kamu ikut-ikutan jadi Wedhul Gèmbès…!)
Teman yang diajak ngomong tadi cuman tersenyum dan tidak menanggapinya……
*****
Wedhul Gèmbès. Kata yang sudah jarang saya mendengarnya. Kata plesetan dari Wedhus Gèmbèl. Kata lain yang semisal contohnya kantos por dan pecas ndahe. Bahasa model demikian ini marak di daerah saya kira-kira sepuluh tahun yang lalu.
*****
Setelah ngobrol empat penjuru mata angin (ngalor-ngidul-ngulon-ngetan), tiba-tiba teman yang divonis Wedhul Gèmbès tadi ngomong kepada saya :
“opo yo arp tak wangsuli kaya wangsulane Pak Rahmat…..?”
(apa ya mau saya jawab seperti jawabannya Pak Rahmat…….?)
ooooo, barulah saya sadar arah pembicaraan teman yang mengatakan Wedhul Gèmbès tadi. Otak saya ternyata telat dalam menganalisa kata-kata dan menemukan munasabah (korelasi/keterkaitan) antara teman saya yang diajak bicara dengan arah pembicaraan.
Wedhus Gèmbèl. Bukan seperti kambing biasa yang berbulu hitam/coklat/putih lurus dan makanannya ramban (tanaman pagar/perdu), tidak cuma rumput saja.
Wedhus Gèmbèl ini hampir semua berbulu putih, keriting kriwel-kriwel, dan di-ngon (digembalakan) di padang rumput (lapangan), di tepi jalan (yang bukan trotoar) atau embong sawah. Wedhus Gèmbèl kalo dalam bahasa Indonesia mungkin lebih tepatnya “domba”, bukan “kambing”.
Lalu apa hubungannya dengan teman saya tadi? Rupanya teman tadi memelihara jenggotnya. Dan kambing (jantan dan sudah poèl/tua) biasanya juga berjenggot. Terlepas dari fakta apakah kalo domba (Wedhus Gèmbèl) juga berjenggot atau tidak, namun kira-kira perkataan tersebut dapat ditafsirkan menjadi : ”kamu kok jenggotan sekarang, kayak kambing”.
Lalu mengapa teman saya tadi tidak menjawab dengan jawaban Pak Rahmat?
Saya belum kenal dengan Pak Rahmat. Menurut informasi yang saya dapat, Beliau yang namanya Pak Rahmat adalah mantan ’panglima’ tingkat kabupaten dari sebuah laskar. Laskarnya sendiri secara nasional sekarang sudah dibekukan karena adanya fatwa dari beberapa ulama Saudi dan Yaman.
Bagaimana jawaban beliau jika dikatakan ”kayak kambing” karena beliau berjenggot? Jawaban beliau memang ”sadis”, namun langsung ”membantai” lawan bicara.
”as* kae raine neng ngarep yo ra duwé jenggot”
(anj*ng itu wajahnya didepan juga nggak punya jenggot)
*****
Edyguard
Jenggot=nyunnah!
December 5th, 2006 at 4:34 pm
ha ha ha, jenggot/akar gigi?
December 21st, 2006 at 12:31 am
hm,,, pak dhe.. pak dhe…
orang yang terlalu njawani