Archive for January, 2007

Manihot èsculènta

Friday, January 19th, 2007

Sore hari menjelang maghrib (waktu Kulon Progo) tanggal 29 Desember 2006, sambil menonton Liputan 6 Petang dan jagongan bersama anak istri (-nya bapak), ada dua hal spesial yang saya dapatkan.
Pertama, saat itu sedang diberitakan jamaah (calon) haji Indonesia yang kelaparan saat wukuf di Arafah. Kok bisa kejadian seperti itu, lha wong yang namanya orang yang mau berangkat haji pasti mbayarnya muaahal, lha kok disana cuman mau dibiarkeun menderita kaliren akut akibat tidak dipasok pengganjal perut, walopun cuman growol atau aron-aron….
Kedua, kontras dengan keadaan jamaah calon haji yang kelaparan karena tidak mendapati sesuatu yang bisa dimakan, justru saya malah disuguhi makanan yang belum pernah terbayangkan bentuk, warna, aroma dan rasanya….
Téla-téla.
Konon katanya makanan tersebut diberi aran demikian.
Bahannya sangat sederhana, Manihot esculenta aliyas téla puhung aliyas téla kaspo aliyas téla kaspé aliyas jéndal bin ubi kayu bin singkong. Wèll, kalo melihat ujudnya setelah jadi makanan eksotis tersebut, kayaknya jéndal yang bernasib malang dijadikan makanan tersebut dikupas (dihilangkan jambalnya), dipotong dan dirajang seperti kalo mau dibikin mangglèng aliyas balung kethèk aliyas balung kuwuk. Terus dibumbui dan digoreng.
Sebagai langkah terakhir, setelah matang kemudian dikrawu dengan cabe merah bubuk, sehingga rasanya empuk-legit-gurih-pedas. Mungkin selain direndam dalam larutan bumbu juga ditambahi soda kue sehingga bisa empuk.
Pembungkusnya pun ‘mewah’, dengan kotak plastik yang biasanya digunakan sebagai kemasan makanan oleh-oleh, seperti geplak dan jenang.
Ya! Tela-tela memang hanya singkong goreng yang dikrawu dengan serbuk cabe. Apa yang spesial?
Yang spesial adalah idenya. Mengubah imej télo gorèng yang rasa dan tampilan ortodok menjadi telo goreng berlabel tela-tela yang tampil necis dengan rasa yang spesial.
Saya jadi membayangkan jika makanan-makanan tradisional yang sudah tersisihkan oleh makanan-makanan modern disulap tampilannya hingga imej kalo makanan itu ndesit bisa berkurang.
Jika di filem2 barat (kini juga di sinetron2 Endonesah) sering terlihat orang sarapan dengan sandwich atau hamburger lengkap dengan daun selada, daging atau sosis, kemudian diberi saus, dan tak lupa ada temennya berupa kentang goreng, maka di Endonesah-pun dibikin yang serupa, namun dengan selera lokal.
Roti untuk sandwich atau hamburger-nya diganti irisan growol atau tetel.
Seladanya diganti lalapan daun kemangi.
Ham, sosis atau dagingnya diganti dengan tempe, tahu, témpé benguk bacem yang digoreng.
Sausnya diganti sambel terasi, sambel jenggot, sambel geplèng atau kethak ireng.
Tak lupa, kentang gorengnya diganti dengan tela-tela……!
Minumannya khas juga : dawet, wédang secang, èSTé-èMJé…..

Edyguard
Kok di Sumantra saya belum nemu bakul growol ya……?