Pokoke Mak Nyuss
Friday, June 8th, 2007Membaca Ka-eR terbitan 06 Juni lalu, Ingsun menemukan fakta baru tentang ungkapan Pokoke Mak Nyuss!-nya Bondan Winarno yang terkenal melalui program jalan-jalan sambil nyicip makanan di salah satu stasiun tipi swasta.
“Orang sering mengira Pokoke Mak Nyuss! itu trade-mark Bondan. Padahal punya riwayat sendiri,” ucapnya terus terang.
Demikian ingsun salin-tempel dari tulisan aselinya.
Tulisan di Ka-eR itu juga mengingatkan pada sumber ungkapan Pokoke Mak Nyuss! itu sendiri : Pak Ageng, dengan ditemani oleh abdi dalem punokawannya : Mister Rigen van Pracimantoro dan Miss Nansiyem, beserta anak mereka : Beni Prakosa dan Tolo-tolo yang menetap di kawasan lembah mBulaksumur yang ngakunya masih Jogja, padahal sudah masuk Sleman.
Ingsun membaca rentetan kisah fiksi tulisan Umar Kayam tersebut setelah dibukukan dalam beberapa jilid lebih dari 5 tahun yang lalu, ketika masih mengenal pakaian seragam.
Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Banda, dan Satrio Piningit ing Kampung Pingit, itulah yang pernah saya baca. Satu judul lagi : Madhep Ngalor Sugih Madhep Ngidul Sugih, sampe saat ini belum ingsun temukan….
Bercerita tentang Pak Ageng, dosen UGM yang jadi bujang lokal karena keluarganya di Jakarta. Sering membeli penggeng ayam dari Klaten yang Pokoke Mak Nyuss!, dagangan Pak Joyoboyo. Kuah santannya mlekoh, disusun dengan laiknya formasi perang a la Mahabharata di tanah Kurusetra : formasi Garudha Nglayang atau Sapit Urang. Dagangan lainnya : sate usus yang jadi kegemaran Beni Prakoso.
Tokoh lain yang belum disinggung : Prof. Lemahombo, Priyayi mBulaksumur dengan mobilnya yang kalo pintunya ditutup bersuara ”beup”, serta Prof. Legowo Prasojo yang hidup sederhana, dengan motor pitung yang suaranya seperti lampor Nyi Roro Kidul saat melewati Kali Progo……….
Apa yang menarik dari cerita ndeso macam itu?
Ah, baca saja salah satu episodenya, tulisan babu negara di ternate